Cara Merawat Hewan

Cara Budidaya Cacing Tanah Secara Alami untuk Pemula, Lengkap dan Rinci

Cara Budidaya Cacing Tanah
Written by Josua Rifandy

Budidaya cacing tanah menawarkan hasil yang menjanjikan. Terlebih didukung dengan modal serta perawatannya yang ramah kantong. Hasil dari budidaya ini menargetkan cacing tanah sebagai bahan pakan untuk ternak. Seringkali cacing tanah digunakan sebagai umpan pancing.

Cara budidaya cacing tanah sendiri tidak terlalu rumit dan bisa dilakukan oleh pemula.

Cara Budidaya Cacing Tanah untuk Pemula


Hal terpenting dari budidaya cacing tanah adalah adalah persiapan tempat serta media hidupnya.

Media hidup inilah yang akan menjadi penentu kesuksesan budidaya, diikuti dengan pemeliharaan yang benar dan penanganan hama serta predator cacing tanah.

1. Proses Persiapan Tempat Budidaya

Hal pertama kali harus dipersiapkan adalah tempat budidaya. Tempat yang digunakan bebas, bergantung dari budget dan lahan yang dimiliki. Bagi yang memiliki lahan sempit skala rumahan, tempat media yang bisa digunakan antara lain bak plastik, besek, karung bekas, rak kayu, dan box kayu.

Untuk yang memiliki lahan cukup luas, bisa memanfaatkan bekas kolam ikan dan sistem kolam jedingan. Silahkan dipilih sesuai budget dan lahan.

Baca Juga : Cara Budidaya Cacing Sutra

Penempatan tempat media juga bebas, bisa di luar atau dalam ruangan. Jika di luar ruangan, seperti memanfaatkan bekas kolam ikan, maka sebaiknya bagian atas tempat media hidupnya diberi penutup, untuk menghindari media hidup menjadi tergenang yang bisa membuat cacing tanah mati.

Baik ditempatkan di dalam atau luar ruangan, semua tempat media dipastikan terhindar dari hama dan predator cacing tanah.

Tahukah Kamu? Bahwa Cacing Memiliki Usia hingga 4 tahun

2. Proses Pemberian Media Hidup Cacing Tanah

Setelah tempat sudah siap, saatnya diberi media hidup. Media hidup itu sendiri berupa bahan-bahan organik yang sudah dicampur rata.

Bahan-bahan organik itu sebagian besar sudah membusuk dan termasuk limbah, di antaranya log jamur tiram, jerami padi, serbuk gergaji atau grajen, sampah organik dan kotoran sapi.

Cara membuat media hidup adalah dengan mencampurkan semua bahan organik itu kecuali kotoran sapi dengan cara memasukkannya ke wadah atau tempat budidaya mencapai ketinggian 15 cm, setelah itu diberi air secukupnya.

Aduk hingga merata, lalu biarkan selama 4 minggu supaya proses fermentasi berlangsung. Baru kemudian tambahkan kotoran sapi yang sudah didiamkan selama 7 hari. Perbandingan campuran media hidup 70% dan kotoran sapi 30%.

Kemudian pastikan terlebih dahulu pH media dan kelembabannya. pH media yang baik adalah pH netral, bisa diukur dengan kertas lakmus.

Untuk tingkat kelembapan medianya adalah sekitar 15-30%. Untuk menetralkan pH media, bisa dengan menambahkan kapur sebanyak 1% dari media hidup budidaya.

3. Menyiapkan Bibit Cacing Tanah Unggulan

Setelah media budidaya sudah siap, saatnya menyiapkan bibit cacing tanah. Bibit cacing tanah yang terbukti berkualitas unggul dapat dibeli dari peternak cacing tanah.

Kelebihan dari bibit cacing tanah yang dibeli dari peternak cacing tanah adalah mereka lebih mudah beradaptasi dengan media yang sudah dipersiapkan. Tidak seperti bibit cacing tanah yang diambil langsung dari alam, yang terkadang kemampuan berkembang biaknya tidak sebagus bibit yang beli.

Banyaknya bibit disesuaikan dengan daya tampung fasilitas budidaya yang sudah dipersiapkan. Semakin besar wadah atau tempatnya, semakin banyak pula bibit cacing tanah yang bisa dibudidaya.

Baca Juga : Cara Budidaya Semut Rangrang

Untuk wadah seperti bak plastik, dan rak kayu, setidaknya bisa menampung sebanyak 100 hingga 150 bibit cacing tanah. Untuk wadah skala besar seperti bekas kolam atau kolam jedingan, dapat menampung hingga hitungan kilogram bibit cacing tanah.

4. Memasukkan Bibit Cacing Tanah ke Media Hidup

Bibit cacing tanah itu, sebaiknya jangan dimasukkan sekaligus ke media hidupnya. Masukkan sedikit bibit di permukaan tanah guna mengecek apakah media hidupnya sudah cocok atau belum.

Jika bibit langsung masuk ke dalam media, dan dalam 3 jam tidak ada satupun yang berkeliaran atau kabur keluar wadah, itu artinya media hidupnya sudah cocok. Terus tambahkan bibit cacing secara bertahap dan cek rutin tiap 3 jam sekali.

Kalau ternyata menemukan bibit cacing yang berkeliaran bahkan berusaha kabur keluar dari wadah media hidupnya, maka media hidupnya perlu diganti.

Cara mengganti medianya adalah dengan menyiram media dengan air, peras, buang airnya, lakukan berulang sampai warna air perasannya menjadi bening.

Setelah penaburan bibit, pastikan untuk mengeceknya setelah 12 jam untuk memastikan apakah bibit sudah betah dengan media hidup yang dipersiapkan.

Jangan dulu khawatir apabila masih ada sebagian bibit yang berada di permukaan tanah. Jika mereka tidak kelihatan ingin kabur, mungkin bibit sedang beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Media hidup yang sudah dipersiapkan, bisa menjadi sumber pakan bagi cacing tanah. Namun supaya pertumbuhan cacing tanah menjadi lebih pesat, maka pemberian pakan dianjurkan.

Pakan untuk cacing tanah adalah bahan-bahan organik yang sudah membusuk atau sudah difermentasi. Di antaranya adalah kotoran sapi yang sudah didiamkan selama 1 minggu, pastikan bukan kotoran sapi yang masih baru karena itu bisa mematikan cacing tanah.

Sayur-sayuran busuk yang sudah dihancurkan menjadi bentuk bubur, ampas tahu, limbah organik yang sudah membusuk. Banyaknya menyesuaikan dengan berat cacing dalam satu wadah atau tempat. Semisal berat cacingnya 1 kg, maka pemberian pakannya juga sebanyak 1 kg.

Pakan ditaburkan di atas permukaan media secara merata, idealnya 1/3 dari wadahnya. Dan pemberian bubur pakan dengan air adalah 1 banding 1.

Baca Juga : Cara Budidaya Bebek Petelur

Bibit cacing tanah yang sudah ditaburkan itu, kemudian akan berkembang biak. Meski cacing adalah hewan yang memiliki kelamin ganda, namun perkembangbiakan dilakukan berpasangan.

Sepasang cacing tanah yang sudah kawin akan menghasilkan sebuah kokon, yang bisa dibilang telur dari cacing tanah. Bentuknya lonjong dengan ukuran setengah dari kepala korek api. Satu kokon akan menghasilkan 5 sampai 20 ekor anakan cacing.

Untuk mempermudah budidaya, sebaiknya induk atau bibit cacing tanah dengan kokon dipisahkan dalam wadah atau tempat yang berbeda.

Cacing Tanah Memiliki banyak manfaat seperti sebagai obat tifus, obat diare dan obat masalah metabolitik.

5. Proses Panen Cacing Tanah

Jika budidaya tidak terganggu dari hama maupun predator, panen cacing tanah bisa dilakukan saat memasuki usia 2,5 sampai 4 bulan. Dapat pula ditandai dengan banyaknya kotoran cacing atau disebut kascing di media hidup.

Pemanenan dilakukan sebagian, dengan menyisakan sebagian cacing dewasa untuk dijadikan bibit kembali dan kokon untuk memperbanyak populasi cacing tanah untuk budidaya.

Cara panen dilakukan dengan menggunakan bantuan lampu neon, bohlam, maupun petromaks. Adanya cahaya dari lampu ini akan membuat cacing di dalam media akan naik ke permukaan dan berkumpul. Ambil cacing-cacing tersebut dan masukkan ke wadah lain.

Untuk cacing dan kokon yang tidak dipanen, sebaiknya dipindahkan ke media hidup yang baru, dan tempatnya terpisah. Cacing tanah yang dewasa akan menjadi bibit, sedangkan kokon akan menetas dalam 2-3 minggu untuk dibudidaya.

Sedangkan untuk bekas media hidup yang lama, bisa dipanen untuk kemudian dijual di toko pertanian. Bekas media hidup yang sudah banyak cacingnya ini sangat bermanfaat bagi petani tanaman hortikultura.

Itulah informasi seputar cara budidaya cacing tanah yang bisa dilakukan oleh para pemula. Tentunya cara yang harus ditempuh ini tidak terlalu rumit bagi pemula dan bisa menjadi salah satu pilihan bisnis budidaya hewan yang menghasilkan keuntungan yang menjanjikan.

Jangan lupa untuk ikuti perkembangan website kita dengan LIKE Facebook, Follow Twitter dan Instagram TrikMerawat.com. Jangan Lupa Juga Untuk Follow Instagram dan Subscribe Channel Youtube penulis.

About the author

Josua Rifandy

Saya adalah seorang Entrepreneur Muda yang sedang aktif di dunia bisnis digital. Dalam menjalankan kehidupan saya memiliki Prinsip untuk Tidak Berhenti Belajar, Tidak Berhenti Bermimpi, dan Tidak Menyerah di Tengah Jalan. So tunggu apalagi, Ayo Raih Mimpi Mu.

Leave a Comment